Rabu, 08 September 2010

part 3 "gara-gara nawong"

Gue buka lembaran hari ini dengan sebuah semangat dan harapan, harapan yang selalu membuat gue semangat untuk membuka mata ketika gue bangun pagi. Ingin kusimpan memori-memori indah gue bersama teman-teman gue dan akan selalu gue jaga kebersamaan teman-teman .
Hari-hari demi hari sebuah kebersamaan dengan teman-teman gue selalu mengisi lembaran-lembaran kisah gue, lembaran=lembaran itu tak akan usang seperti rasa persahabatan gue.
Di pagi yang cerah ini, gue jalanin aktifitas gue dengan biasa. Mulai kupanaskan mesin motor gue yang sudah berada di depan rumah gue. Gue mencium tangan nyokap gue dan mulai kujalankan motor satria gue ke sekolahan. Tak sabar ingin gue ingin bercengkrama dengan teman-teman gue.
Handphone di saku seragam putih biru gue tiba-tiba bergetar.

From : nto
09 april 2007, 07.10
Kang, lo da dimana? Jemput gw gy……..
Ok
ok

waduh hampir aza gue lupa, ngejemput si anto, mulai kutarik gas motor gue.
Tak sampai 5 menit gue udah nyampek di rumah anto. Anto pun udah nangkring di depan rumahnya.
“waduh nto, gue hamper lupa ngejemput lo, untung aza lo sms, cba qlw g?” kata gue yang masih di motor gue .
“wah kau, melupakan diriku, sungguh engkau kejam, hehehehe, udah si jod gpp, yg penting lo dah nyampek rumah gue, gue yg sory ngerepotin loaza” jawan anto dengan lugas.
“ hehehehe, kaya lo baru kenal gue aza si nto, slow aza sich, ea dah gy cabut keburu telat lho”
Kata gue sambil mulai menyalakan mesin motor gue.
Hari ini, tidak ada hal yang menarik semua berjalan dengan lancar tanpa ada halangan. Selain itu hari ini, tanpa sengaja gue bertemu dengan cewek bermata indah sepulang sekolah, seperti di film-film gue tanpa sengaja menabrak dia.
“sorry, gue g sengaja nabrak lo” kata gue, dengan membereskan barang-barang yang terjatuh yang telah dia bawa sebelumnya.
“oh, gpp kok. Mungkin gue yang lagi meleng sampai nabrak lo” jawab Ayu dengan lembut.
Sekali lagi mirip di film-film bioskop Indonesia, tanpa sengaja tangan gue menyetuh tangan dia. waktu terasa berhenti, degupan jantung ini semakin terasa. Inikah yang namanya jatuh cinta seperti lagu Titiek Puspa, yang sampai sekarang lagunya masih terus menggema di belantara musik Indonesia.
Gue tak ingin melepaskan tangannya, namun tak ada geledek tak ada angin si bocil dating dan merusak sesuatu hal yang sangat istemewa dalam masa pubertas gue.
“PRIKITIEW, ada yang lagi jatuh cinta nie ye!!!” ledek bocil.
Ayu pun langsung melepaskan tanganya dari genggaman gue, seakan-akan Ayu malu-malu kucing.
“wah, lo muh cil ganggu gue aza” kata gue dalam hati.
Gue masih belum bisa terang-terangan mengucapkan rasa yang gue alamin kini. Tanpa ada bahasa yang keluar dari mulut, gue dan Ayu langsung meninggalkan bocil sendirian.
Di hari yang panas ini, gue dan Anto ingin menenangkan diri dan ingin bercanda ria dengan Nawong. Di warung Nawong yang lebarnya hanya 2x3 meter ini, gue dan Anto dapat bercanda ria, dan saling memberikan tawa.
Gue pun masih ingat, ketika suatu malam minggu gue, Anto, dan Dimas menghabiskan waktu dan begadang di warung Nawong. Untuk mengusir rasa kantuk, kami mengahabiskan waktu dengan bermain gapleh ( semacam permainan kartu ), setalah bermain sangat lama, tiba-tiba di saat Nawong giliran membuang kartu, kucing peliharaan Nawong mengusik konsentrasi Nawong. Nawong yang jail ini pun tanpa dosa memegang buntut kucing dan melemparkanya ke belakang, sampai panic dibelakang berbunyi keras.
KELOMPYAAANGGGG……!!!
Di malam yang hening itu pun kembali ramai oleh tingkah laku Nawong yang jail, kami pun kembali tertawa. Kami pun sudah tak heran dengan tingkah laku Nawong. Nawong hanyalah asisten pak Wawan pemilik warung untuk menjaga warung 24 jam, tingkah laku Nawong yang jail dan selalu membuat kami tertawa dan tak menoton membuat kami merasa betah untuk berkumpul.
Setelah lelah bermain kartu, kami oun ingin memajamkan mata. Namun, gue, Anto dan Nawong masih belum bisa tidur. Anto yang dengan tenang menghabiskan rokok terakhirnya, dan gue bermain handphne agar tak bosan.
Lalu, apakah yang di lakukan Nawong?. Memang si Nawong Jail atau saraf di otaknya udah tak berfungsi, anak kucing yang tak mempunyai dosa kembali dia siksa. Dia pun memasukkan anak kucing itu ke dalam toples berukuran sedang dan diputar-putarlah toples berukuran sedang itu. melihat anak kucing yang baru saja dimasukkan toples, Nawong pun tertawa terbahak-bahak karena anka kucing yang pusing itu berjalan mundur. Gue dan Anto teralihkan perhatianya oleh tawa keras si Nawong. Kami pun ikut tertawa.
“lo mah wong, parah ma anak kucing. Kasian tau wong” kata Anto.
“wih biarin aza, daripada gue diem aza” bela Nawong.
Keunikan dan kejailan Nawong lainnya adalah ketika suatu sore gue dan Anto nongkrong di warung Nawong. Ternyata Nawong tak ada, yang menjaga warung pak Wawan sendiri.
“ pak Wawan, nawongna ada dimana?” Tanya gue.
“ owh, lagi beli rokok, habis nich daganganya dan belum belanja” jawab pak Wawan.
Tak lama kemudian, Nawong pun dating membawa belanjaan dan membawa ayam hidup. Pak Wawan pun kaget, karena dia tak menyuruh membeli ayam.
“ wong, siapa yang nyuruh beli ayam hidup?” Tanya pak Wawan terheran-heran.
“ ini, buat ibu gue pak di kampong. Tenag pak, ini pakek duit gue sendiri” jawab Nawong dengan tegas.
“ ea udah, saya mau pulang dulu ea, jaga warung yang bener” kata pak Wawan sambil bergerak menuju sepeda motornya.
Gue dan Anto pun juga heran, kapan si Nawong bisa mikir bener. Ternyata benar, apa yang ddipikirkan gue dan Anto. Nawong tiba-tiba membakar ayam hidup-hidup. Nawong pun tertawa terbahak-bahak, karena melihat ayam yang terbakar itu berlari-lari di halaman samping warung Nawong.
“ aih, lo mah wong orang mah beli ayam buat dimakan atau disembeleh dulu baru dibakar” kata Anto.
“ lo muh nto, gue cumin pengen liat ayam mati terbakar doank, lagian nie ayam juga dapet nyolong di desa sebelah” jawab Nawong yang jail itu.
Sekali lagi gue bisa tertawa puas gara-gara tingkah laku si nawong.

muka tanpa dosa SUeb bin Nawong


1 komentar:

dj_awa autis mengatakan...

bwt nawong yg gokil z

Posting Komentar